Direktur Eksekutif Medialink : Literasi Keberagaman Adalah Tanggung Jawab Seluruh Pihak

Spread the love

Jakarta, Med14 – Keberagaman suku, agama, ras merupakan warisan berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia secara turun-temurun selama berabad-abad.

Keberanekaragaman ini jika tidak dirawat dan dipelihara dengan baik, dapat menjadi celah perpecahan antar sesama anak bangsa, sebagaimana dialami masyarakat Kabupaten Bekasi dimana terjadi aksi penolakan sejumlah warga masyarakat di Tambun Selatan Kabupaten Bekasi yang berusaha menghentikan kegiatan ibadah di Rumah Doa Fajar Pengharapan.

Peristiwa semacam ini menjadi ancaman bagi keberagaman Indonesia, terlebih sekarang kita lagi berupaya untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai keberagaman di masyarakat.

Dalam pertemuan ‘Editor Meeting’ di Hotel Ashley Jakarta Pusat pada Kamis (22/6/2023) hari ini, Direktur Eksekutif Medialink, Ahmad Faisol menilai bahwa peristiwa pelarangan di Tambun Selatan Kabupaten Bekasi merupakan rentetan kejadian yang berpotensi mengancam gerakan moderasi beragama sebagai imbas dari minimnya literasi keberagaman bagi masyarakat.

“Literasi masyarakat kita terhadap moderasi beragama masih lemah. Ini menjadi agenda kita semua untuk mengupayakan adanya “aware” terhadap nilai-nilai pluralistik,” ujar Direktur Eksekif Medialink Ahmad Faisol dalam acara “Editor Meeting & Kelas Jurnalisme” di Jakarta, 22 Juni 2023.

Faisol menambahkan bahwa tugas mensosialisasikan dan menumbuhkan sikap keberagamaan yang moderat bukan saja tugas aktor-aktor masyarakat dan negara, tapi juga menjadi peran yang harus diambil media.

“Media jangan hanya terjebak pada tugas “memberitakan’ saja, tanpa memberi arti betapa pentingnya menumbuhkan sikap keberagamaan yang inklusif di masyarakat, terlebih bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang plural dan heterogen” imbuh Faisol

Lebih lanjut, Faisol kembali menegaskan bahwa peran media dan pemerintah merupakan kunci utama menjaga keberagaman dalam bingkai demokrasi.

“Perubahan jaman yang semakin digital, tak mengubah tugas media sebagai pilar keempat dan pengawas demokrasi masih relevan hingga sekarang. Itu prinsip yang harus tetap dijaga,” tegas Faisol.

Dalam penelitian Medialink, pemberitaan terkait isu-isu konflik keagamaan di masyarakat memang massif. Namun isu yang ditampilkannya banyak yang kurang menyampaikan pesan pentingnya hidup yang dilandasi dengan nilai-nilai moderasi dan inklusifitas.

“Tidak hanya media, negara juga sangat dibutuhkan perannya, selama ini negara terkesan abai dan cuek melihat konflk-konflik keagamaan yang terjadi di masyarakat.

“Sinyalemen banyaknya konflik-konflik keagamaan di masyarakat yang tidak selesai semakin memperkuat tuduhan tersebut. harusnya negara bersikap tegas dalam hal ini,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan