Diskusi Editor Terkait Terorisme, AMSI dan Medialink Sorot Sisi Pandang Korban

Spread the love


Jakarta, Med14 – Perhatian terhadap para penyintas dan korban aksi kekerasan terorisme dipandang perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah, media dan seluruh elemen bangsa, untuk itu, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama Medialink kembali menggelar Diskusi Editor Media dan Kelas Jurnalis pada Rabu (26/06/2023) di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat dengan menghadirkan 5 (lima) orang narasumber yaitu ; Dr Zora A. Sukabdi, seorang pakar Terorisme dan Akademisi UI, Ir Hamli dari Badan Penanggulangan Ekstrimis dan Terorisme, Tony Soemarno, Wakil Ketua Forum Komunikasi Aktifis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI), Adi Prasetyo, Direktur AMSI dan Erik Somba, Ketua AMSI DKI Jakarta.
Diskusi Editor Media bertema “Terorisme Dalam Pandangan Negara, Media dan Korban” ini menurut Ahmad Faisol, bertujuan untuk membahas isu radikalisme dan terorisme dari perspektif korban terkait hasil media monitoring yang dilakukan oleh Medialink.
“Dari hasil media monitoring yang dilakukan oleh Medialink, ada kecenderungan pemberitaan oleh media jika ada kaitan dengan kekerasan, ada terorisme, ada persekusi, dan hanya memberitakan tentang angka korban dan dalam kasus radikalismepun ikut berperspektif pelaku, padahal kita ingin agar korban ini tidak hanya diposisikan sebagai obyek tapi juga sebagai subyek kata Faisol membuka diskusi
Sementara itu, Direktur AMSI, Adi Prasetya mengungkap bahwa AMSI sangat concern terhadap soal-soal pemberitaan tata laksana pengelolaan media, etik yang menjadi prinsip dasar dan AMSI ingin membangun media dengan anggota yang menyertakan pemberitaan terkait isu-isu strategis dimana sepanjang 2 tahun terakhir ini, AMSI bahkan telah merefresh apa yang menjadi concern media dan mengajak media-media anggota AMSI untuk tidak hanya kejar traffic hingga menomorduakan perspektif lain tentang etik ataupun pemberitaan terorisme dan untuk itu, media yang tergabung dalam AMSI telah bersepakat untuk mengadopsi komunikator Madrid terkait keterpercayaan dalam pemberitaan.
“Media anggota AMSI sudah sepakat untuk mengadopsi adanya komunikator Madrid tentang trustworthy indicator, ada 11 indikator yang kita sepakati dan ini adalah sebuah pedoman serangkaian sikap, langkah dan juga tindakan bagi seluruh awak media, tidak hanya di redaksi tapi juga dibidang manajemen untuk menjaga keterpercayaan publik atas pemberitaan kita” ungkapnya
Dalam kesempatan yang sama, menurut Pakar Terorisme sekaligus Akademisi UI, Dr Zora A. Sukabdi guna menyikapi rencana kepulangan para WNI eks TKI yang sebelumnya terpapar radikalisme di sejumlah negara, menyampaikan beberapa pilihan solusi untuk mengatasi potensi dampak negatif bagi bangsa Indonesia.
“Untuk TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri, perlu diberikan pembekalan, pemeriksaan fisik dan psikis oleh psikiater dan psikolog klinis demikian juga bagi TKI yang akan kembali ke tanah air terutama mereka maupun anak-anak yang terafiliasi dengan terorisme juga penting untuk diberikan pendalaman idiologi Pancasila sebelum diperbolehkan kembali ke daerah asal” ujarnya


Lebih lanjut menurut Zora, hal tersebut juga masih mengalami pro dan kontra serta beragam reaksi, baik dari masyarakat Indonesia maupun lembaga internasional.
Selain itu, Tony Soemarno, Wakil Ketua Forum Komunikasi Aktifis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) setelah menceriterakan pengalamannya saat menjadi korban aksi terorisme, menyampaikan rasa syukurnya karena bergabung dalam organisasi FKAAI dimana dirinya dapat bertemu dengan para pelaku aksi bahkan dapat berkontribusi dalam menggugah kesadaran para pelaku aksi.
Tony juga berharap media dapat menjadi penyambung lidah dari para penyintas/korban karena yang banyak diberitakan di media adalah para pelaku sedangkan para penyintas atau korban kurang mendapat perhatian baik dari media bahkan menurut Tony kompensasi untuk sekitar 400 orang penyintas baru dapat terealisasi pada 2019 lalu.
“Saya berharap media bisa menjadi penyambung lidah para penyintas karena selama ini sering luput dari perhatian media bahkan untuk kompensasi bagi 400 penyintas baru terealisasi pada tahun 2019 lalu oleh pemerintah” ujarnya
Tony juga meminta agar pemerintah juga lebih memperhatikan jaminan kesehatan bagi para penyintas terutama yang telah berusia lanjut.
“Banyak teman-teman saya para penyintas yang sudah usia lanjut, tidak bisa bekerja dan fisiknya sudah tidak sehat untuk itu kami butuh perhatian lebih lanjut terutama dari sektor kesehatan agar dapat bekerja” imbuhnya

Ir Hamli dari Badan Penanggulangan Ekstrimis dan Terorisme meenyampaikan bahwa siapapun yang terpapar radikalisme dan terorisme biasanya memiliki keinginan yang sama antar satu kelompok dengan kelompok lainnya.
“Kelompok-kelompok radikal dan terorisme yang ada bila kita baca semua literatur apa keinginan mereka, keinginan mereka sama yaitu ingin mendirikan khilafah meskipun ada latar belakang lainnya” ujarnya

Ketua AMSI DKI Jakarta, Erik Somba dalam pemaparannya menghimbau agar seluruh media group AMSI turut serta mengulas isu terorisme dan isu-isu strategis lainnya tidak hanya sekedar menitikberatkan pada angka statistik.
“Soal terorisme dan sebagainya, kami menghimbau semua teman-teman group AMSI terutama group AMSI Jakarta untuk tetap menjadikan isu ini sebagai sebuah isu karena kita gak melihat isu itu cuma sebagai statistik” himbau Erik

Peneliti Medialink, L Qomarulaeli kepada awak media mengatakan, korban terorisme berhak mengetahui kebijakan yang diambil pemerintah terkait upaya perlindungan korban
“Ini merupakan hak mereka yang dilindungi perundang-undangan. Selain itu, keterbukaan pemerintah dalam memberikan akses informasi kepada korban justru akan menguatkan komitmen pemerintah” pungkas Qomarullaeli
Peneliti Medialink juga meyakini bahwa selama ini korban terorisme terlalu banyak dijanjikan program-program perlindungan yang sebetulnya sangat mereka butuhkan baik dalam bentuk penyembuhan trauma (trauma healing) maupun bentuk perlindungan lain pasca traumatik. (adm/YN/VD)

Tinggalkan Balasan